Berita  

Ahli Ungkap 3 Celah di Proses Hukum Perkara Pidana Hukum Vina

Ahli Ungkap 3 Celah di Proses Hukum Perkara Pidana Hukum Vina


Ahli Psikolog Forensik Reza Indragiri mengungkapkan tiga celah (loopholes) dalam proses penegakan hukum Perkara Pidana Hukum pemerkosaan disertai Kejahatan Keji terhadap Vina dan Eky yang kembali viral beberapa minggu terakhir.

Reza mengaku tidak mengetahui Jelas kendala yang dihadapi polisi selama delapan tahun terakhir.

“Saya tidak tahu ya kompleksitas macam apa yang ditemukan oleh teman-teman di kepolisian kendati saya mencoba untuk terus-menerus membangun asumsi positif bahwa mereka bekerja keras menuntaskan Perkara Pidana Hukum ini,” ujar Reza dikutip dari CNN Indonesia TV, Kamis (23/5).


Sekalipun begitu, di sisi lain, ia mengatakan tidak bisa mengingkari temuan tiga celah yang Sangat dianjurkan diuji kembali. Pertama terkait dengan validitas pengakuan ataupun keterangan yang disampaikan oleh para terpidana, dulu terdakwa dan Pelaku Kejahatan.

Loopholes muncul karena pada saat yang sama saya temukan ada Sebanyaknya foto di mana para terpidana atau dulu terdakwa sebelumnya Pelaku Kejahatan dalam kondisi Putaran belur,” kata Reza.

Ia mengkhawatirkan penyidik kepolisian menggunakan Tips-Tips Tindak Kekerasan untuk memaksa para pelaku mengakui perbuatannya.

“Saya khawatir ada kaitan antara kondisi Putaran belur itu dengan proses interogasi terhadap diri mereka, karena psikologi forensik meyakini bahwa Bila proses penegakan hukum terlalu mengandalkan pada pencarian pengakuan atau keterangan yang notabene mengandalkan daya ingat manusia, maka itu rentan bagi terganggunya proses pencarian fakta,” kata Ia.

Celah kedua mengenai narasi pemerkosaan. Dalam sebuah perbincangan di salah satu acara televisi, tutur Reza, Dirreskrimum Polda Jabar Pada Di waktu ini menyatakan terdapat sperma di vagina almarhumah Vina. Reza pun melontarkan pertanyaan untuk dapat diuji.

“Pertanyaannya apakah sperma itu datang dari aktivitas seksual yang dipaksakan sehingga terpenuhi syarat pidana? Ataukah sperma itu datang dari sebuah aktivitas seksual yang sifatnya konsensual alias Ingin sama Ingin?” ucap Reza.

“Demikian pula untuk memastikan kalau memang ada sperma, maka sperma siapa itu? Mengingat pada Perkara Pidana Hukum ini ada 11 orang laki-laki (pelaku). Ditambah satu orang kekasih atau teman dekat almarhumah,” sambungnya.

Sementara celah ketiga ia mempertanyakan mengenai Kejahatan Keji.

“Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk bisa semaksimal Kemungkinan atau Kemungkinan ini penyemangat bagi penyidik untuk mengecek ulang kesesuaian atau bahkan justru perbedaan yang ada antara hasil autopsi dengan tuntutan jaksa,” kata Reza.

“Pernah barang Pernah Jelas isi tuntutan tidak boleh menyimpang dari hasil autopsi. Tapi, sekiranya ada perbedaan maka Sangat dianjurkan diperiksa penjelasan mengapa terjadi perbedaan tersebut,” sambungnya.

Terlepas dari semua itu, Reza mengaku menghormati otoritas penegak hukum yang Pernah memeriksa dan mengadili Perkara Pidana Hukum ini. Sekalipun lagi, kata Ia, tidak menutup kemungkinan ada noda hitam di dalam prosesnya.

“Sebagai warga negara saya Pernah Jelas dalam posisi menghormati otoritas penegakan hukum. Tetapi, tidak bisa kita pungkiri ada sebuah noda hitam dalam hukum kita misal Perkara Pidana Hukum Sengkon dan Karta. Perkara Pidana Hukum Sengkon dan Karta menunjukkan bahwa proses hukum yang Pernah inkrah sekalipun ternyata bisa ada kekhilafan di dalamnya,” ungkap Reza.

“Perkara Pidana Hukum Sengkon dan Karta inilah yang kemudian membuka adanya PK, Peninjauan Kembali. Oleh karena itu, sekiranya ada pertanyaan-pertanyaan tentang celah seperti yang saya sampaikan tadi, atau ketika sekian banyak pihak menaruh rasa Pembatasan terhadap penegakan hukum Perkara Pidana Hukum ini, maka silakan diperjuangkan untuk menemukan bukti baru guna mengajukan PK,” lanjut Ia.

Baru-baru ini, Polda Jabar berhasil menangkap Pegi Setiawan alias Perong yang merupakan buron dalam Perkara Pidana Hukum pemerkosaan dan Kejahatan Keji Vina dan kerabatnya Eky. Perong berhasil melarikan diri sekitar delapan tahun.

Perong menjadi Pelaku Kejahatan dengan peran diduga menjadi otak dalam Perkara Pidana Hukum tersebut.

“Pelaku Kejahatan PS (Pegi Setiawan) diduga sebagai otak Perkara Pidana Hukum Kejahatan Keji disertai pemerkosaan yang terjadi delapan tahun silam,” kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Jules Abraham Abast, Rabu (23/5) malam.

Polisi Sebelumnya menggeledah rumah Perong di Cirebon. Tim penyidik menyita Sebanyaknya barang saat menggeledah kediamannya. Sekalipun, polisi tidak menyampaikan barang dimaksud.

Selanjutnya, polisi masih mengejar dua buron lain dalam Perkara Pidana Hukum ini Dikenal sebagai Andi dan Dani.

(sfr/sfr)

Sumber Refrensi Berita : CnnIndonesia > Ahli Ungkap 3 Celah di Proses Hukum Perkara Pidana Hukum Vina